Minggu, 16 November 2014

HORTIKULTURA SAYURAN ORGANIK

Pembelajaran Kewirausahaan,
Ibu-ibu Rumah Tangga diajak memanfaatkan barang bekas (seperti plastik bekas bungkus minyak goreng) untuk menanam sayuran yang dapat dipetik untuk kebutuhan memasak.
Saya merasa paling ngganteng dan menjadi pusat perhatian para wanita.

Rasa senang mengembang di hati, manakala tanaman sayuran tumbuh segar menghiasi taman di halaman rumah. Mau masak tidak perlu ke pasar, ke luar rumah sebentar memetik dan .... seng oseng oseng, .... matang masakan, siap disajikan di meja makan.

Rabu, 05 November 2014

Juara I Lomba PTK Berprestasi Tingkat Nasional, menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 16 Agustus 2014 di Gedung Insan Berprestasi Kemdikbud Jakarta

Juara III Lomba Karya Kreatifitas dan Inovasi Pamong Belajar Tingkat Nasional, menerima penghargaan dari Dirjen Dikdas Kemendikbud pada tanggal 5 September 2014 di Gedung Insan Berprestasi Kemdikbud Jakarta

 Bersama teman-teman PTK PAUDNI Kota Semarang menjadi juara dalam APRESIASI PTK PAUDNI tingkat Jawa Tengah di Gedung LPMP Prov Jawa Tengah tahun 2013
Bersama teman-teman Pamong Belajar para Juara PTK Berbrestasi Tingkat Jawa Tengah di LPMP Prov Jawa Tengah Tahun 2014 (Mia Pamong Belajar Kab. Magelang Juara II dan Misjo Pamong Belajar Kebumen Juara III)


Sabtu, 23 Agustus 2014

SABU MALU (SEJARAH BURUK MASA LALU)

“SABU MALU”
PEMBELAJARAN REFLEKSI DIRI
BAGI WARGA BELAJAR PAKET B 
DI LAPAS KELAS II A WANITA SEMARANG

Pembinaan narapidana bukanlah pekerjaan yang mudah, karena mereka adalah orang-orang yang bermasalah dengan hukum. Untuk itu perlu ada perlakuan khusus dalam penanganannya. Termasuk dalam kegiatan pembelajaran pendidikan kesetaraan Paket B.

Kenyataan yang terjadi, warga binaan LAPAS adalah orang-orang yang mengalami penyimpangan terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Mereka adalah warga masyarakat yang melanggar hukum, sehingga membutuhkan pengendalian sosial melalui pembinaan dalam institusi yang bernama ”Lembaga Pemasyarakatan”. Berbagai metode pembinaan dilakukan oleh lembaga LAPAS dengan tujuan untuk merubah sikap dan perilaku, salah satunya adalah pembinaan melalui pendidikan kesetaraan.

Tentunya tidak mudah untuk memberikan pembinaan melalui pendidikan kesetaraan Paket B. Untuk itu perlu ada suatu metode pembelajaran yang dapat dengan mudah merubah sikap dan perilaku warga binaan LAPAS, sehingga mereka akan menjadi warga masyarakat yang baik, berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS bagi warga belajar Paket B di LAPAS Wanita Semarang yaitu pembelajaran refleksi diri ”SABU MALU”, yaitu jargon dari kalimat “Sejarah Buruk Masa Lalu”. Sabu Malu dikembangkan pada mata pelajaran IPS dalam pokok bahasan Penyimpangan Sosial yang merupakan materi pelajaran Paket B setara dengan kelas VIII SMP, untuk mengajak peserta didik merefleksi diri tentang sejarah buruk masa lalu yang mengakibatkan mereka terseret masuk penjara. Dengan pembelajaran Sabu Malu ini diharapkan penyimpangan-penyimpangan sosial yang selama ini telah dilakukan oleh warga belajar dapat berubah sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Minggu, 13 Juli 2014

DESKRIPSI DIRI

SENTUHAN KECIL UNTUK PERUBAHAN

Menjadi pendidik adalah pilihan, diawali menjadi guru swasta, beralih ke guru negeri, akhirnya Kustopo mengabdikan diri pada pendidikan non formal. Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi tutor Paket C. Bidang garapannya meliputi mendidik anak jalanan, anak-anak tidak mampu, masyarakat marginal serta nara pidana atau warga binaan lembaga pemasyarakatan.
Visi hidup yang dikemukakan adalah “Mengingat yang terlupakan, mendidik yang belum sekolah, memajukan yang terbelakang”. Untuk mewujudkan visi tersebut hanya dibutuhkan sentuhan-sentuhan kecil dengan tindakan yang tulus dan ikhlas memberi kesempatan untuk melakukan perubahan.
Aktualisasi diri ditunjukkan dari jenjang pendidikan, mengikuti berbagai Diklat, aktif dalam forum ilmiah, menjadi nara sumber pada berbagai kegiatan, membimbing teman sejawat, serta membimbing anak didiknya untuk mencapai prestasi semaksimal mungkin.
Bekerja menjadi tutor Paket C mengajar peserta didiknya dalam jeruji besi adalah kebanggaan. Aktivitas belajar mengajar yang dilakukan dalam penjara merupakan pekerjaan yang menarik, menantang dan menyenangkan. Sentuhan-sentuhan kecil tentang makna belajar dan hakekat hidup disampaikan setiap saat. Harapannya, warga belajar yang merupakan orang-orang bermasalah akan melakukan perubahan sikap perilaku untuk menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.
Berbagai prestasi telah diraih, seperti juara dalam lomba pemilihan tutor berprestasi, lomba apresiasi PTK PAUDNI, lomba penulisan karya ilmiah, serta berbagai lomba lainnya. Pembimbingan siswa juga membuahkan hasil, dengan diraihnya berbagai kejuaraan dalam festival olah raga pendidikan non formal di tingkat regional dan nasional. Berbagai buku sudah diterbitkan baik yang berupa buku pelajaran, buku pengayaan, modul maupun diktat.
Keluarga merupakan tumpuan hidup untuk berbagi suka duka. Istri dan anak-anaknya mendukung langkah sang ayah. Ini merupakan modal untuk bekerja dengan senang yang dapat menghasilkan perubahan besar. Kegiatan dalam bermasyarakat tidak diragukan. Aktifitas dalam bertetangga ditunjukkan dengan azas gotong royong dan saling membantu. Hidup rukun, tentram dan damai merupakan dambaan yang diidam-idamkan. Harapannya kelak, mampu memberikan sentuhan-sentuahan kecil untuk merubah kehidupan yang madani.

Kamis, 10 Juli 2014

JASMERAH PEMBELAJARAN DI LAPAS

 JASMERAH

STRATEGI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI BAGI WARGA BELAJAR PAKET C
DI LAPAS KELAS II A WANITA SEMARANG

Upaya peningkatan penguasaan materi pelajaran serta merubah sikap dan tingkah laku bagi peserta didik Paket C di Lapas Kelas II A Wanita Semarang dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu strategi pembelajaran yang dikembangkan adalah ‘JASMERAH’  akronim dari kalimat ‘jangan sekali-sekali melupakan sejarah’ yang diterapkan dalam pembelajaran Sosiologi pokok bahasan Perilaku Menyimpang. Fokus pembahasan strategi pembelajaran JASMERAH meliputi (1) bagaimana pencapaian penguasaan materi, (2) bagaimana perubahan sikap dan perilaku,  (3) apa keunggulannya, dan (4) apa kendalanya.
Strategi pembelajaran JASMERAH menekankan pada pembelajaran refleksi diri yang mengajak peserta didik untuk mengingat kembali sejarah kelam masa lalu, serta usaha untuk memperbaiki perilaku-perilaku yang menyimpang dan mengubah menjadi perbuatan yang baik. Tahapan pelaksanaanya meliputi (1) peserta didik merefleksi sejarah kelam masa lalu, (2)  tutor menjelaskan maslah perilaku menyimpang, sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan, (3) ingatan peserta didik dibawa  ke akibat buruk sebagai hasil dari perilaku menyimpang, dan (4) akhir pembelajaran, tutor memberikan simpulan, mengajak instropeksi diri, melakukan penyesalan atau pertobatan, merubah sikap dan tingkah laku.
Hasil yang dicapai dari pembelajaran JASMERAH (1) materi pelajaran terserap, (2) terjadi perubahan tingkah laku, (3) proses pembelajaran menjadi kondusif, (4) peserta didik aktif dalam pembelajaran, dan (5) tutor mudah dalam memberikan stimulant dan motivasi.
Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran JASMERAH meliputi (1) penyimpangan yang dialami variatif,  (2) kejiwaan peserta didik tidak sama, dan (3) evaluasi terbatas saat di lapas. Adapun faktor pendukungnya meliputi (1) peserta didik dalam satu asrama kehadirannya mudah dipantau, (2) sarana prasarana pembelajaran mendukung, (3) pengelola lapas mendukung, (4) tutor memiliki kompetensi dan kualifikasi yang memadai, dan (5) pemerintah memberikan dukungan.
Langkah yang dilakukan untuk alternatif pengembangan meliputi (1) pengembangan internal berupa evaluasi dan revisi berbagai kendala dan hambatan, mengembangkan strategi pembelajaran baru, serta melakukan uji coba untuk mata pelajaran lain, (2) pengembangan eksternal berupa uji coba di lapas lain dan penyelenggara Paket C layanan khusus. Karya tulis ini direkomendasikan untuk (1) tutor Paket C dalam mengembangkan strategi pembelajaran, (2) penyelenggara Paket C bagi warga binaan di lapas, (3) Dinas Pendidikan dalam memaksimalkan penyelenggaraan Paket C, dan (4) Direktorat PSMA Ditjen Dikmen Kemdikbud sebagai  bahan kajian penyelenggaraan Paket C layanan khusus.

Kamis, 10 April 2014

DESAIN PENGKAJIAN

    DESAIN
PENGKAJIAN PROGRAM PAUD NI

KORELASI ANTARA
PELAJARAN KETERAMPILAN BERBASIS KUP DENGAN MOTIVASI BALAJAR
BAGI WARGA BELAJAR PAKET B
DI SKB KOTA SEMARANG
 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Struktur kurikulum pendidikan kesetaraan Paket B dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) sesuai dengan Permen Diknas No. 23 tahun 2006 dengan orientasi pengembangan olahkarya untuk mencapai keterampilan fungsional yang menjadi kekhasan program Paket B, yaitu memiliki keterampilan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja. Spektrum pendidikan kesetaraan memberikan arah kebijakan penyelenggaraan model pembelajaran yang terkait antara akademik dengan vocational skills. Dalam spektrum ini penyelenggara dapat menentukan pilihan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan diantara tiga spektrum yang ditawarkan, yaitu; (1) Pendidikan kesetaraan murni akademik, (2) Pendidikan kesetaraan integrasi keterampilan, dan (3) Pendidikan kesetaraan murni keterampilan.
Mulai dari Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas No. 14 tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan Kesetaraan, spektrum pendidikan kesetaraan sampai pada rencana pengembangan kegiatan Pra-Koperasi bagi pendidikan kesetaraan, seluruhnya memuat kegiatan pembelajaran pendidikan kesetaraan Paket B yang bermuatan keterampilan kecakapan hidup (life skills). Tujuan akhir dari pembelajaran kecakapan hidup tersebut adalah terbentuknya lulusan Paket B yang memiliki keterampilan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja.
Pengembangan model pembelajaran keterampilan fungsional berbasis kewirausahaan didasari oleh pengembangan spektrum pendidikan kesetaraan integrasi keterampilan (KIK) yang memberikan materi akademik dan keterampilan secara seimbang, sehingga peserta didik disamping memperoleh ijasah sebagai hasil pembelajaran akademik, mereka juga memperoleh keahlian untuk mandiri, terutama bidang kewirausahaan.
Maksud dan tujuan dari penyelenggaraan pembelajaran keterampilan fungsional dalam pendidikan kesetaraan adalah untuk menanamkan jiwa wirausaha dalam diri peserta didik. Melalui pembelajaran keterampilan fungsional berbasis kewirausahaan ini diharapkan warga belajar memiliki kemandirian untuk berusaha sebagai wirausaha maupun bersaing di dunia kerja.  
Sanggar Kegiatan Belajar Kota semarang, pada tahun pelajaran 2011/2012 dan 2012/2013 telah menyelenggarakan program pendidikan keterampilan berbasis Kelompok Usaha Produktif (KUP) bagi warga belajar Paket B. Kegiatan keterampilan berbasis KUP dikemas dalam bentuk pelajaran keterampilan yang dilaksanakan secara teori dan praktek memproduksi barang, selanjutnya dilakukan pendampingan usaha untuk memproduksi dan menjual barang yang dihasilkan. Pendidikan keterampilan berbasis KUP ini diharapkan dapat membekali warga belajar dengan pengetahuan dan memotivasi warga belajar untuk meningkatkan pengetahuannya.
Dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan dari pelaksanaan program keterampilan berbasis kewirausahaan yang diwadahi dalam suatu kegiatan Kelompok Usaha Produktif (KUP) bagi warga belajar Paket B yang diselenggarakan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Semarang, Tim Pengkajian Program PAUD-NI SKB Kota Semarang perlu melakukan kegiatan pengkajian program tersebut. Pengkajian program difokuskan pada bagaimana pengaruh program pendidikan keterampilan dengan motivasi yang muncul pada diri warga belajar.
Untuk mengetahui adanya hubungan saling pengaruh antara pelajaran keterampilan berbasis kelpmpok usaha produktif (KUP) dengan motivasi belajar peserta didik program Paket B yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang, perlu dilakukan kegiatan pengkajian program PAUDNI tentang “Korelasi Antara Pelajaran Keterampilan Berbasis KUP Dengan Motivasi Balajar Bagi Warga Belajar Paket B Di SKB Kota Semarang”.  
  
1.2.   Dasar
Dasar pelaksanaan kegiatan pengkajian program PAUD NI tentang “Korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi balajar bagi warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang” adalah:
a.       Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b.      Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
c.       Peraturan Menteri PAN dan RB No. 15 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.
d.      Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian NegaranNo. 03/III/PB/2011, No. 8 Tahun 2011 tentang Juklak Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.
e.       SK Kepala SKB Kota Semarang No. 781.1/190/2012 Tentang Pengkajian Program PAUD NI di SKB Kota Semarang.

1.3.   Tujuan
Tujuan dari Pengkajian Program PAUDNI tentang “Korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi balajar bagi warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang” adalah:
a.       Untuk mengetahui apakah ada korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi belajar pada warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang.
b.      Untuk mengetahui keunggulan pelajaran keterampilan berbasis KUP di SKB Kota Semarang.
c.       Untuk mengetahui faktor penghambat pelaksanaan pelajaran keterampilan berbasis KUP di SKB Kota Semarang.
  
1.4.   Manfaat
1.4.1.     Manfaat Teoritis
Secara teoritis, pengkajian program ini diharapkan dapat memberikan sumbangan berupa gagasan, ide, konsep tentang model pelajaran keterampilan yang efektif dan efisien yang dapat dislenggarakan di lembaga SKB maupun lembaga PAUDNI lainnya.

1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil pengkajian program PAUDNI tentang “Korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi balajar bagi warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang” ini diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak:
1)      Lembaga SKB, sebagai bahan acuan penyelenggaraan pembelajaran keterampilan.
2)      Dinas Pendidikan, sebagai bahan pertimbangan untuk penyelenggaraan program keterampilan Paket B.
3)      BPKB, BPPAUDNI/P2PAUDNI dan Kemdiknas dalam melaksanakan program pembelajaran kesetaraan.
4)      Sebagai contoh atau model bagi penyelenggara program pendidikan keterampilan berbasis kewirausahaan.


BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESA

2.1. Keterampilan Berbasis KUP
Kurikulum Pendidikan Kesetaraan Paket B, yang selanjutnya disebut KTSP Pendidikan Kesetaraan Paket B, salah satu mata pelajaran yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran adalah mata pelajaran keterampilan fungsional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 26 ayat (2) dinyatakan bahwa “Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Struktur kurikulum pendidikan kesetaraan Paket B dimaksudkan untuk mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) sesuai dengan Permen Diknas No. 23 tahun 2006 dengan orientasi pengembangan olah karya untuk mencapai keterampilan fungsional yang menjadi kekhasan program Paket B, yaitu memiliki keterampilan untuk memenuhi tuntutan dunia kerja.
Keterampilan berbasis KUP merupakan pelajaran keterampilan berbasis kewirausahaan yang pada akhir pelaksanaan program warga belajarnya membentuk Kelompok Usaha Produktif yang disingkat dengan KUP. Kelompok Usaha Produktif (KUP) merupakan wadah usaha bersama dengan prinsip dari, oleh dan untuk peserta Paket B yang didirikan oleh peserta didik dan dibimbing oleh lembaga penyelenggara yang berusaha menghasilkan pendapatan dan keuntungan bagi peserta KUP yang dikelola terus menerus dan bergulir dalam memanfaatkan potensi ekonomi lokal/ setempat (Kemdikbud, 2012). Dalam petunjuk pelaksanaan Bansos Pendidikan Kesetaraan Berbasis Kewirausahaan (Depdiknas, 2010) dikemukakan tentang pelaksanaan pendidikan kesetaraan yang terarah pada upaya peningkatan kewirausahaan bagi warga belajar. Ketentuan pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan dilakukan secara integratif dengan pembelajaran keterampilan, penambahan pelajaran keterampilan dilakukan selama menyelesaikan pendidikan akademik, perintisan usaha dilakukan selama proses pembelajaran.
Maksud dan tujuan dari penyelenggaraan pembelajaran keterampilan berbasis kelompok usaha produktif (KUP) adalah untuk menanamkan jiwa wirausaha dalam diri peserta didik. Melalui pembelajaran keterampilan berbasis KUP ini diharapkan warga belajar memiliki kemandirian untuk berwirausaha maupun bekerja.  

2.2. Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti dorongan atau daya penggerak. Hasibuan (2007:95) mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Harold Koontz  menyatakan bahwa motivation refers to the drive and effort to satisfy a want or goal. Motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau tujuan (Hasibuan, 2007:95). Pada dasarnya motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, menggarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Siagian, 2004). Menurut Clayton Alderfer dalam Siagian (2004) motivasi belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang (individu) untuk bertindak  atau berbuat mencapai tujuan, sehingga perubahan tingkah laku pada diri siswa diharapkan terjadi. Motivasi belajar merupakan kecenderungan siswa dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin. Sedangkan Abraham Maslow menjelaskan motivasi belajar merupakan kebutuhan untuk  mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga mampu berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif (Siagian, 2004).
Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong peserta didik atau warga belajar untuk belajar dengan senang dan belajar secara sungguh-sungguh, sehingga akan terbentuk cara belajar yang sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kagiatannya untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.

2.3. Warga Belajar Paket B
Warga belajar adalah istilah peserta didik pada pendidikan nonformal. Sasaran warga belajar Paket B yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang adalah adalah anak-anak usia formal yang tidak mampu secara ekonomi untuk melanjutkan di sekolah formal. Kriteria warga belajar Paket B adalah lulus SD/MI sederajat atau putus SMP/MTs sederajat.

2.4. Kerangka Berpikir dan Hipotesa
2.4.1. Kerangka Berpikir
Kerangka berfikir dari pengkajian program PAUDNI tentang pelaksanaan pelajaran keterampilan pada Paket B di SKB Kota Semarang, tim pengkajian akan meneliti apakah ada korelasi antara pelajaran keterampilan yang dikemas dalam model kelompok usaha produktif (KUP) dengan motivasi belajar. Dalam pengkajian program PAUDNI tentang pelajaran keterampilan, kerangka berpikir yang dikemukakan adalah pelajaran keterampilan berbasis KUP berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik. Semakin tinggi nilai yang diperoleh dari variabel keterampilan berbasis KUP, maka semakin tinggi pula nilai pada variabel motivasi belajar. Sebaliknya, semakin rendah nilai yang diperoleh dari variabel keterampilan berbasis KUP, maka semakin rendah pula nilai pada variabel motivasi belajar.






2.4.2. Hipotesa
Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara atas permasalahan penelitian yang memerlukan data untuk menguji kebenaran dugaan tersebut. Dalam suatu penelitian, rumusan hipotesis sangat penting. Hipotesis merupakan kesimpulan sementara yang masih perlu diuji kebenarannya. Adapun hipotesis yang dikemukakan dalam pengkajian program PAUDNI ini adalah: ”Ada pengaruh yang signifikan antara pelajaran keterampilan terhadap motivasi belajar bagi warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang”. Secara terstruktur hipotesisnya adalah:
1)      Ho: Tidak ada hubungan yang mempengaruhi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi belajar warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang.
2)      Ha:  Ada hubungan yang mempengaruhi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP  dengan motivasi belajar warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang.



BAB III
METODE PENGKAJIAN

3.1. Desain Penelitian
Pengkajian program PAUDNI tentang keterampilan berbasis KUP ini menggunakan pendekatan Kuantitatif Ekspos Fakto. Hasan (2005) mengemukakan bahwa penelitian Ekspos Fakto (expost fakto research) meneliti hubungan sebab akibat yang tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh peneliti. Penelitian hubungan sebab akibat dilakukan terhadap program, kegiatan atau kejadian yang telah berlangsung atau telah terjadi.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan desain hubungan antar variable, sebagaimana tertuang dalam gambar berikut:

3.2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian dalam pengkajian program PAUDNI ini meliputi:
1)      Variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang nilai-nilainya tidak bergantung pada variabel lainnya, yang disimbolkan dengan X. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pelajaran keterampilan berbasis KUP. Untuk selanjutnya variabel X adalah keterampilan berbasis KUP.
2)      Variabel terikat (dependent variable) yaitu variabel yang nilai-nilainya bergantung pada variabel lainnya, yang disimbolkan dengan Y. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah motivasi belajar warga belajar Paket B SKB Kota Semarang. Untuk selanjutnya variabel Y adalah motivasi belajar.
Dalam penelitian ini diprediksikan bahwa variabel bebas (X) memiliki hubungan pengaruh terhadap variabel terikat (Y), nilai-nilai variabel X berpengaruh terhadap nilai-nilai variabel Y.  

3.3. Sumber Data
Yang menjadi sumber data dalam pengkajian program PAUDNI tentang pelajaran keterampilan yang berbasis kelompok usaha produktif (KUP) adalah warga belajar Paket B SKB Kota Semarang yang mengikuti pelajaran keterampilan berbasis KUP yang diselenggarakan pada tahun pelajaran 2011/2012 dan 2012/2013. Jumlah peserta pelajaran keterampilan berbasis KUP ada sebanyak 25 warga belajar.

3.4. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yang akan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur. Instrumen yang digunakan dalam pengkajian program ini menggunakan kuesioner atau angket.
Kuesioner ini dibuat dari pengembangan indikator masing-masing variabel sebagai acuan dalam mengembangkan butir-butir instrumen dalam bentuk pernyataan yang berkaitan dengan dimensi masing-masing variabel.
Indikator untuk variabel keterampilan berbasis KUP meliputi:
1)      Jenis keterampilan yang diajarkan,
2)      Sarana prasarana yang mendukung pelajaran,
3)      Model pembelajaran yang dilaksanakan,
4)      Nara sumber yang mengajar.
Sedangkan indikator dari variabel motivasi belajar meliputi:
1)      kehadiran warga belajar dalam mengikuti pelajaran,
2)      minat warga belajar dalam mengikuti pelajaran,
3)      semangat warga belajar dalam belajar,
4)      kesungguhan warga belajar dalam belajar,
5)      kesenangan warga belajar dalam mengikuti pelajaran.
Berikut kisi-kisi instrumen penelitian tentang korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi belajar warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang.
Tabel 3.1: Kisi-kisi instrumen penelitian
No
Variabel
Indikator
1
keterampilan berbasis KUP
1)      Jenis keterampilan
2)      Sarana prasarana
3)      Model pembelajaran
4)      Nara sumber
2
Motivasi belajar
1)      Kehadiran
2)      Minat
3)      Semangat
4)      Kesungguhan
5)      Kesenangan


Instrumen penelitian terlampir.

Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen disusun dalam bentuk berskala. Skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah rating scale. Rating scale merupakan alat pengumpul data yang berupa suatu daftar berisi tentang sifat atau ciri-ciri tingkah laku tentang kekuatan atau kelemahan secara berjenjang dengan diberi skala yang berupa angka tingkatan kualitas.
Rating scale yang digunakan dalam pengkajian program ini meliputi 5 skala tingkatan, yaitu:
1)      Skor 1 = sangat tidak baik/sangat rendah/tidak pernah
2)      Skor 2 = tidak baik/rendah/jarang
3)      Skor 3 = biasa/cukup/kadang-kadang
4)      Skor 4 = baik/tinggi/sering
5)      Skor 5 = sangat baik/sangat tinggi/Selalu

3.5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam pengkajian program ini adalah dengan menggunakan angket atau kuesioner tertutup. Angket tertutup adalah angket yang disusun dengan menyediakan jawaban lengkap sehingga responden tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih (Suharsimi Arikunto,1996:278). Dalam penelitian ini angket ditujukan kepada responden penelitian, yaitu warga belajar Paket B yang ikut pelajaran keterampilan berbasis KUP di SKB Kota Semarang pada tahun pelajaran 2011/2012 dan 2012/2013.

3.6. Teknik Analisis Data
Metode analisa data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah analisis korelasi. Analisis korelasi adalah cara untuk mengetahui ada atau tidak adanya hubungan antar variabel (Hasan, 2005:228). Apabila terdapat hubungan antar variabel maka perubahan yang terjadi pada salah satu variabel akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel lainnya.
Untuk menentukan kekuatan hubungan atau korelasi antara pelajaran keterampilan berbasis KUP dengan motivasi belajar warga belajar Paket B di SKB Kota Semarang, berikut ini diberikan nilai-nilai dari koefisien korelasi (KK) yang digunakan sebagai penentuan tinggi rendahnya tingkat korelasi antara dua variabel dalam penelitian.
a.       KK = 0                       : tidak ada korelasi
b.      0        KK 0,20    : korelasi sangat rendah/lemah sekali
c.       0,20   KK 0,40    : korelasi rendah/lemah tetapi pasti
d.      0,40   KK 0,70    : korelasi yang cukup berarti
e.       0,70   KK 0,90    : korelasi yang tinggi kuat
f.       0,90   KK 1         : korelasi sangat tinggi, kuat sekali, dapat diandalkan
g.      KK = 1                       : korelasi sempurna

Dengan menggunakan metode analisis korelasi diharapkan dapat diketahui tingkat korelasi pelaksanaan kegiatan pendidikan keterampilan berbasis KUP dengan motivasi belajar warga belajar Paket B yang dilaksanakan oleh SKB Kota Semarang.
Untuk menganalisis hipotesis, langkah yang ditempuh adalah menggunakan
“Uji Korelasi Sederhana”. Uji korelasi sederhana digunakan untuk menguji hipotesis pertama dan hipotesis kedua. Teknik korelasi sederhana yang digunakan adalah korelasi Pearson. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya.


BAB IV
STRATEGI PELAKSANAAN PENGKAJIAN

4.1. Tahap Persiapan
Untuk memperoleh hasil pengkajian program yang akurat dan sahih, perlu dirancang dan dipersiapkan pelaksanaannya secara matang. Persiapan tersebut mencakup sarana dan prasarana pendukung kebutuhan pengkajian program, penyiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan kompetensinya sebagai tim pengkajian, serta anggaran biaya yang dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya kegiatan pengkajian program.

4.1.1. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pengkajian program, meliputi:
a.       Alat tulis kantor (ATK)
b.      Perangkat komputer dan printer
c.       Kamera foto/video untuk pengambilan gambar dokumentasi
d.      Ruangan untuk kepentingan rapat/diskusi terfokus dan pengolahan data

4.1.2. Tim pengkajian
Susunan tim pengkajian program PAUD-NI tentang “Korelasi Antara Pelajaran Keterampilan Berbasis KUP Dengan Motivasi Balajar Bagi Warga Belajar Paket B di SKB Kota Semarang” adalah sebagai berikut:


Tabel 4.1: Susunan Tim Pengkajian Program PAUD-NI Tentang “Korelasi Antara Pelajaran Keterampilan Berbasis KUP Dengan Motivasi Balajar Bagi Warga Belajar Paket B di SKB Kota Semarang”

No.
Tugas Dalam Tim
Nama
Jabatan
1
Tim Pengkajian
1.      Drs. Kustopo, M.Pd
Ketua
2.      Kis Triyantono, S.Pd
Anggota
2
Tim Validasi Instrumen dan Pengambil Data
1.      Siti Suwaidah, M.Pd
Ketua
2.      Dra. Sudarmi
Anggota
3
Tim Pengolah dan Analisis Data
1.      Itang Atitin, SP
Ketua
2.      Arie Yekti W., M.Pd
Anggota


Rincian tugas dari masing-masing tim pengkaji adalah sebagai berikut:
a.      Tim Pengkajian
1)      merancang dan menyusun desain pengkajian
2)      merancang, menyusun dan mengembangkan instrumen pengkajian
3)      melaksanakan orientasi pengumpulan data dengan membentuk tim pelaksana pengumpulan data
4)      bersama Tim Pengolah dan Analisis Data melakukan pengolahan dan analisa data
5)      menyusun pelaporan hasil pengkajian program yang telah dilaksanakan

b.      Tim Validasi Instrumen
1)      memvalidasi instrumen yang telah dikembangkan  oleh  Tim Pengkaji
2)      melakukan revisi instrumen apabila terdapat hal-hal yang perlu direvisi
3)      menyusun laporan kegiatan validasi instrumen

c.       Tim Pengambil Data
1)      mengikuti orientasi pengumpulan data yang dilaksanakan oleh Tim Pengkajian
2)      melaksanakan kegiatan pengumpulan data di lapangan
3)      menyampaikan laporan  kegiatan pengumpulan data kepada Tim Pengkajian

d.      Tim Pengolah dan Analisis Data
1)      melakukan pengolahan data dari hasil pengumpulan data yang telah dilaksanakan oleh Tim Pengambil Data
2)      melakukan analisa data yang telah diolah
3)      menyampaikan laporan hasil pengolahan dan analisa data kepada Tim Pengkajian

4.1.3. Anggaran biaya pengkajian
Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan pengkajian program PAUD-NI tentang “Korelasi Antara Pelajaran Keterampilan Berbasis Kup Dengan Motivasi Balajar Bagi Warga Belajar Paket B di SKB Kota Semarang” adalah sebagai berikut:
  
Tabel 4.2: Anggaran Biaya Pengkajian Program PAUD-NI tentang Korelasi antara Pelajaran Keterampilan Berbasis KUP dengan Motivasi Belajar Warga Belajar Paket B SKB Kota Semarang

No.
Jenis Kebutuhan
Volume
Jumlah Biaya
1
Biaya penyusunan desain dan instrumen
a.       ATK                  Rp 100.000    
b.      Fotocopy          Rp 150.000
c.       Penjilidan         Rp   50.000
d.      Transport tim   Rp 150.000
1 keg
Rp   450.000
2
Biaya validasi instrumen
a.       Uji instrumen    Rp 100.000
b.      Transport tim    Rp 150.000
1 keg
Rp   250.000
3
Biaya pengambilan data
a.       Dokumentasi    Rp 100.000
b.      Transport tim    Rp 150.000
1 keg
Rp   250.000
4
Biaya pengolahan dan analisis data
a.       ATK                   Rp   50.000
b.      Transport tim     Rp 150.000
1 keg
Rp   200.000
5
Biaya pembuatan laporan
a.       ATK                  Rp   50.000    
b.      Fotocopy           Rp 250.000
c.       Penjilidan          Rp 200.000
d.      Transport tim    Rp 150.000                 
1 keg
Rp   650.000

JUMLAH SELURUH BIAYA

Rp 1.800.000


Anggaran biaya tersebut ditanggung secara pribadi oleh Tim Pengkajian Program PAUD-NI bidang keterampilan/vokasi. Hal ini disebabkan pelaksanaan kegiatan pengkajian program PAUD-NI tidak/belum dibiayai oleh pihak manapun.
  
4.2. Tahap Pelaksanaan
4.2.1. Lokasi pengkajian
Lokasi pengkajian dilaksnakan pada Kejar Paket B SKB Kota Semarang, dengan alamat sebagai berikut:
Jalan                : Jl. Raya Ungaran – Gunungpati KM. 5
Kelurahan        : Sumurejo
Kecamatan      : Gunungpati
Kota                : Semarang
Provinsi           : Jawa Tengah

4.2.2. Waktu pengkajian
Pengkajian dilaksanakan bulan Mei sampai dengan Juli 2013, dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 4.3: Jadwal Kegiatan Pengkajian Program PAUD-NI tentang Korelasi antara Pelajaran Keterampilan Berbasis KUP dengan Motivasi Belajar Warga Belajar Paket B SKB Kota Semarang

No.
Jenis Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Lokasi/Tempat
1
Penyusunan desain pengkajian
6 – 10 Mei 2013
SKB Semarang
2
Penyusunan instrumen
13 – 17 Mei 2013
SKB Semarang
3
Validasi instrumen
20 – 24 Mei 2013
SKB Semarang
4
Orientasi petugas pengambil data
27 – 28 Mei 2013
SKB Semarang
5
Pengambilan data di lapangan
29 – 31 Mei 2013
Paket B SKB Semarang
6
Pengolahan dan analisa data
3 – 21 Juni 2013
SKB Semarang
7
Penyusunan laporan
24 Juni – 19 Juli 2013
SKB Semarang
8
Cetak dan penggandaan laporan
22 – 26 Juli 2013
Fotocopy dan penjilidan



4.3. Tahap Pelaporan
Tahap pelaporan pelaksanaan pengkajian program PAUD-NI mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
a.       setelah hasil pengolahan dan analisa data terselesaikan, tim pengkajian menyimpulkan hasil pengkajian dan menyusun laporan,
b.      laporan disusun oleh tim pengkajian dan disampaikan kepada Kepala SKB Kota Semarang untuk diperiksa kebenarannya,
c.       apabila masih ada yang harus direvisi maka tim pengkajian melaksanakan pembenaran atau revisi,
d.      jika sudah disetujui dan memperoleh pengesahan dari Kepala SKB, tim pengkajian menggandakan laporan hasil pengkajian.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Depdiknas. 2010. Petunjuk Pelaksanaan Bansos Pendidikan Kesetaraan Berbasis Kewirausahaan. Jakarta: Depdiknas
Hasan, M. Iqbal. 2005. Pokok-pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara
Hasibuan, H.Malayu S.P. 2007. Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara
Kemdikbud, 2012. Petunjuk Pelaksanaan Bansos Keterampilan Kewirausahaan Paket B. Jakarta: Depdiknas
Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta