Kamis, 03 Desember 2015

JALAN-JALAN KE PERANCIS

PARIS - PERANCIS

Kota yang paling tersohor di Perancis adalah Paris, disamping sebagai ibukota negara, Paris juga menjadi pusat mode dan pariwisata dunia. Bangunan-bangunan peninggalan abad 17 masih tertata dan terawat tanpa ada perubahan. Hal ini karena adanya aturan bangsa Perancis yang melarang merubah ataupun menambah bentuk bangunan peninggalan bersejarah. Bangunan-bangunan kuno menjadi cirri khas dari kota Paris. Tetapi justru dari bangunan kuno peninggalan bersejarah inilah para wisatawan merasa senang dan bangga, seakan mereka kembali pada masa Napoleon.
Peran pemerintah dalam menangani pariwisata sangat dominan, yaitu dengan penyediaan berbagai fasilitas turis, seperti bus tour, trem, kereta, maupun peta-peta wisata yang selalu terpajang di setiap halte. Keramahan, disiplin dan taat aturan merupakan ciri khas bangsa Perancis.
Agenda budaya dibukukan serta dipublikasikan secara luas, sehingga masyarakat dunia tahu kegiatan-kegiatan wisata budaya yang akan diselenggarakan. Agen-agen wisata senantiasa memperoleh jadwal wisata, sehingga akan memberikan kemudahan bagi agen untuk mengajak turis masuk ke Perancis. Para wisatawan dapat mengambil peta dan agenda budaya secara gratis.

Rabu, 17 Juni 2015

JALAN-JALAN KE BELANDA


      Belanda merupakan Negara di Eropa yang terkenal dengan bendungan lautnya. Negara
    Belanda merupakan hamparan landscape yang memiliki ketinggian permukaan tanah di bawah permukaan air laut. Manajemen yang baik untuk pengaturan air dari laut dan sungai-sungai menjadikan Belanda kaya dengan blue energy. Jika di Indonesia orang melihat lift pada bangunan-bangunan tinggi, berbeda dengan negara Belanda yang membangun lift di sungai atau kanal-kanal untuk menaikkan air sebagai jalur transportasi kapal. Berbagai upaya untuk mengembangkan potensi alamnya terus meningkat dengan kerjasama antara pemerintah, institusi pendidikan, dan pihak swasta. Riset-riset yang terus berkembang dalam bidang membran, efisiensi dari penggunaan wind energy, black water treatment, serta analisis kebijakan tentang water regulation dan best practices-nya menjadi topik utama yang saling bertautan satu sama lain.

      Kemajuan ini tidak terlepas dari cara pandang masyarakat Belanda yang berpegang teguh pada horizon, cara pandang dan pemetaan tentang bagaimana masyarakat mereka saat ini dan proyeksi beberapa tahun ke depan. Agreement adalah soko guru ikatan sosial yang sangat kuat dalam masyarakat Belanda, sehingga perbedaan apapun bisa berdampingan dan terus memberikan efek positif bagi perkembangan negaranya. Dengan apresiasi yang tinggi terhadap privasi orang lain, menyepakati aturan bersama dan ada aturan yang ditaati secara mutlak, menjadikan kehidupan di masyarakat Belanda sangat tertata.


     Masyarakatnya lebih senang berjalan kaki atau bersepeda untuk pergi ke kantor, ke sekolah ataupun ke tempat kerja. Mereka berpendapat bahwa dengan berjalan kaki atau bersepeda akan lebih sehat, hemat energi dan tidak menyebabkan polusi serta kemacetan. Pemerintah mendukung sekali aktivitas masyarakat yang bersepeda dengan memberikan layanan tempat parkir secara khusus, Bagaimana dengan bangsa kita?
     Bangsa Indonesia harus belajar dengan bangsa Belanda, untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu lintas dan cara menanggulangi banjir yang selalu menjadi masalah.

Senin, 08 Juni 2015

PERJALANAN KE NEGRI KINCIR ANGIN








Menyaksikan kemegahan kincir angin tradisionil dari negeri Belanda, negeri yang terkenal dengan sebutan negeri kincir angin.
Kincir angin tradisionil di Belanda tidak sekedar berfungsi untuk menggerakkan dinamo pembangkit listrik, tetapi juga menaikkan air untuk irigasi, menumbuk jagung, merajang rumput pakan ternak serta berbagai aktivitas rumah tangga lainnya. HEBAT...




Canal cruise, salah satu sungai yang berfungsi untuk penanggulangan banjir, tetapi di Belanda kanal ini digunakan sebagai jalur transportasi air yang sangat membantu mobilitas penduduk serta distribusi barang ke seleuruh negeri. Di kanal ini ada lift yang berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan air. Sangat hebat...
 

Selasa, 06 Januari 2015

PENGKAJIAN PKM HORTIKULTURA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab I, pasal 1 ayat (1) dinyatakan bahwa; pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kelompok belajar berperan untuk menumbuh-kembangkan, membentuk, dan memproduksi pendidikan berwawasan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sehingga pendidikan dapat membentuk karakter yang kuat untuk mengembangkan life skills (kecakapan hidup) dalam kehidupan sehari-hari. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta strategi pembangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan berdaya saing dalam kehidupan global. Dalam Pasal 26 ayat (2) dinyatakan bahwa “Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Termasuk dalam hal ini adalah penyelenggaraan kursus dan pelatihan bagi masyarakat.
Pendidikan keterampilan merupakan upaya pemberian bekal kepada peserta didik agar kelak mereka dapat menghidupi dirinya sendiri, keluarga dan orang lain, termasuk mampu bersaing dalam dunia usaha dan industri (DUDI). Namun model pembelajaran keterampilan yang dilaksanakan saat ini belum mampu menuntaskan persoalan warga belajar. Tujuan mencetak wirausaha-wirausaha yang siap terjun di kancah dunia usaha masih mengalami berbagai kendala karena kekurangsiapan lulusan serta minimnya pendampingan. Di sisi lain, kurang kesesuaian antara jenis pelatihan dengan kebutuhan masyarakat juga berpengaruh terhadap sikap dan minat atau motivasi warga belajar dalam mengikuti pelatihan. Hal ini disebabkan karena materi pelatihan maupun hasilnya kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat saat itu.
Kenyataan di lapangan kegiatan keterampilan kurang menyentuh masyarakat, dikarenakan pelatihan keterampilan yang diberikan ke masyarakat kurang sesuai dengan kebutuhan dan daya tarik. Tentunya program yang demikian hanya akan menghamburkan uang. Sehingga perlu dikembangkan suatu model pelatihan/ kursus keterampilan pelatihan kewirausahaan masyarakat yang dapat meningkatkan kompetensi peserta, bermanfaat secara langsung serta mampu memasilitasi untuk mengembangkan kewirausahaan.
Kota Semarang yang memiliki luas wilayah 37.370 Ha, secara administratif dibagi menjadi 16 kecamatan, dan terdiri dari 177 kelurahan. Jumlah penduduk Kota Semarang pada awal tahun 2014 sebanyak 1.739.989 yang terdiri dari laki-laki 888.619 dan perempuan 871.370. Dari jumlah tersebut terdapat ibu rumah tangga sebanyak 442.089 (BPS, 2014).  Ibu rumah tangga sebagian besar merupakan pengangguran tak kentara, yang sekedar mengurusi rumah tangga. Mestinya mereka dapat memberikan kontribusi melalui bekerja sampingan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.
Permasalahan pengangguran dan terbatasnya lapangan kerja merupakan masalah  yang lebih berbahaya bila dibandingkan dengan masalah-masalah yang lain. Karena persoalan ekonomi merupakan permasalahan yang sangat peka terhadap emosi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tentu saja masalah ini juga mempengaruhi HDI atau Indek Pembangunan Manusia, khususnya bidang ekonomi, dimana bangsa Indonesia sangat jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
Besarnya angka pengangguran yang disebabkan oleh tidak mampunya masyarakat dalam menghadapi dunia kerja karena tidak memiliki keahlian atau keterampilan, pemerintah perlu memberikan pendidikan keterampilan yang dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tuntutan dunia usaha dan industri maupun berwirausaha.
Pendidikan keterampilan merupakan upaya pemberian bekal kepada peserta didik agar kelak mereka dapat menghidupi dirinya sendiri, keluarga dan orang lain, termasuk mampu bersaing dalam dunia usaha dan industri (DUDI). Namun model pembelajaran keterampilan yang dilaksanakan saat ini belum mampu menuntaskan persoalan warga belajar. Tujuan mencetak wirausaha-wirausaha yang siap terjun di kancah dunia usaha masih mengalami berbagai kendala karena kekurangsiapan lulusan serta minimnya pendampingan yang dapat meningkatkan kompetensi peserta serta mampu memfasilitasi untuk mengembangkan kewirausahaan.
Di sisi lain, kurang kesesuaian antara jenis pelatihan dengan kebutuhan masyarakat juga berpengaruh terhadap sikap dan minat atau motivasi warga belajar dalam mengikuti pelatihan. Hal ini disebabkan karena materi pelatihan maupun hasilnya kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat saat itu.
Bertolak dari permasalahan pelatihan keterampilan kewirausahaan masyarakat yang terjadi selama ini, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Semarang menyelenggarakan pelatihan keterampilan berbasis kewirausahaan masyarakat (PKM) hortikultura untuk jenis tanaman sayur-sayuran organik dalam polibag yang diajarkan kepada ibu-ibu rumah tangga di lingkungan perumahan (Perumnas) yang minim lahan.  Diharapkan program ini mengena sasaran yaitu ibu-ibu rumah tangga agar dapat memberikan kontribusi peningkatan ekonomi rumah tangganya, serta pemanfaatan lahan atau pekarangan meskipun tidak luas atau sempit.
Dalam program PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang tahun 2014, melaksanakan kegiatan dengan mengambil sasaran ibu-ibu rumah tangga di lingkungan RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik, dengan harapan hasil pelatihan yang dikembangkan dapat berguna atau bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan selanjutnya dilakukan pengembangan kewirausahaan kepada warga belajar/lulusan peserta pelatihan keterampilan, guna membantu berlatih wirausaha sambil meningkatkan ekonomi keluarganya.

Dalam rangka mengevaluasi dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan  pelaksanaan program keterampilan berbasis kewirausahaan PKM Hortikultura tanaman sayuran organik dalam polibag bagi ibu-ibu yang diselenggarakan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Semarang, Tim Pengkajian Program PAUD-NI bidang Vokasi SKB Kota Semarang melakukan kegiatan pengkajian program tersebut. Pengkajian program difokuskan pada hasil yang dicapai program pendidikan keterampilan PKM Hortikultura terkait dengan; 1) tingkat keberhasilan penyelenggaraan program PKM Hortikultura, 2) motivasi warga belajar dalam mengikuti kegiatan, dan 3) kewirausahaan dan pemasaran yang dicapai. Kegiatan pengkajian program PAUDNI yang dilakukan adalah “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang.

1.2.   Dasar
Dasar pelaksanaan kegiatan pengkajian program PAUD NI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang adalah:
a.       Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b.      Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
c.       Peraturan Menteri PAN dan RB No. 15 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.
d.      Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian NegaranNo. 03/III/PB/2011, No. 8 Tahun 2011 tentang Juklak Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.
e.       Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2013 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kreditnya.
1.3.   Tujuan
Tujuan dari Pengkajian Program PAUDNI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang adalah:
a.       Untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan program pelatihan keterampilan PKM Hortikultura tanaman sayuran organik yang diselenggarakan SKB Kota Semarang bagi ibu-ibu rumah tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Semarang memiliki kebermanfaatan.
b.      Untuk mengetahui bagaimana motivasi warga belajar dalam mengikuti kegiatan pelatihan keterampilan PKM Hortikultura.
c.       Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peluang kewirausahaan dan pemasaran hasil pelatihan keterampilan PKM Hortikultura.
d.      Untuk mengetahui faktor penghambat pelaksanaan pelajaran keterampilan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang.

1.4.   Manfaat
1.4.1.     Manfaat Teoritis
Secara teoritis, pengkajian program ini diharapkan dapat memberikan sumbangan berupa gagasan, ide, konsep tentang model pelaksanaan pelatihan keterampilan PKM Hortikultura agar efektif dan efisien sehingga dapat dislenggarakan di lembaga SKB maupun lembaga PAUDNI lainnya secara optimal.

1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil pengkajian program PAUDNI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang ini diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak:
1)      Pamong belajar, tenaga fungsional yang terlibat secara langsung dalam pengkajian program PAUDNI untuk melaksanakan kegiatan pengkajian sebagai salah satu tugas pokoknya.
2)      Lembaga SKB, sebagai bahan acuan penyelenggaraan pembelajaran pelatihan keterampilan.
3)      Dinas Pendidikan, sebagai bahan pertimbangan untuk penyelenggaraan program kursus dan pelatihan keterampilan di masyarakat.
4)      BPKB, BPPAUDNI/P2PAUDNI dan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan dalam melaksanakan program pembelajaran kursus dan pelatihan keterampilan.

BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

Untuk memudahkan acuan dalam pengkajian program PAUDNI tentang Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang, dalam landasan teori disampaikan pemahaman istilah untuk membatasi pengertian atau definiai yang dimaksud dalam pengkajian ini. Sedangkan kerangka berpikir memberikan alur pemikiran atau kerangka dasar arah dan tujuan dalam pengkajian program.

2.1. Pengkajian Program PAUDNI
Pengkajian Program PAUDNI berdasarkan Permen PAN-RB No. 15 tahun 2010 adalah proses kegiatan pengumpulan dan penelaahan data yang berkaitan dengan pelaksanaan program PAUDNI yang dilakukan secara berencana dan sistematis dengan menggunakan alat dan metode ilmiah tertentu untuk menilai tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan program (Kemdiknas, 2010).
Pengkajian program dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dari pelaksanaan sebuah program. Dengan melakukan pengkajian dapat diketahui apakah program yang dilaksanakan sesuai atau melenceng dengan tujuan yang diharapkan. Demikian juga untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dialami serta faktor pendukung yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil capaian. Dari pengkajian program, penyelenggara dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan serta berbagai permasalahan yang dialami untuk meningkatkan pelaksanaan program yang akan datang.
Pengkajian yang dimaksud dalam kegiatan ini adalah telaah yang dilakukan dengan mengadakan penelitian berupa analisis pelaksanaan program kegiatan, yaitu pelatihan PKM Hortikultura yang diberikan kepada ibu-ibu rumah tangga. Dalam pengkajian ini selain analisis dilakukan studi evaluasi untuk mengetahui keberhasilan program. Tujuan dari pengkajian program ini adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan, hambatan dan pendukung, serta upaya-upaya perbaikan yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil yang lebih baik.
Dalam pengkajian program PAUDNI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang” ini, tim pengkaji melakukan pengkajian program pelatihan keterampilan kewirausahaan masyarakat (PKM) Hortikultura budidaya tanaman sayuran organik dalam polibag yang dilatihkan kepada ibu-ibu rumah tangga di lingkungan RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang pada 4 Oktober sampai dengan 8 Desember 2014. Pengkajian dilakukan secara langsung dengan mengadakan observasi lapangan dan menanyakan kepada warga belajar melalui angket atau kuesioner. Hasil pengkajian digunakan sebagai bahan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program serta sebagai bahan acuan pelaksanaan program yang akan datang.

2.2. Analisis Penyelenggaraan Program
Analisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditafsirkan maknanya (Wikipedia, 2014). Dalam pengertian yang lain, analisis adalah sikap atau perhatian terhadap sesuatu (benda, fakta, fenomena) sampai mampu menguraikan menjadi bagian-bagian, serta mengenal kaitan antarbagian tersebut dalam keseluruhan. Analisis dapat juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan atau menguraikan suatu materi atau informasi menjadi komponen-komponen yang lebih kecil sehingga lebih mudah dipahami.
Hasan (2005) menyebutkan bahwa analisis merupakan kegiatan untuk menguraikan atau memecahkan suatu keseluruhan menjadi komponen-komponen yang lebih kecil sesuai tujuan analisis agar dapat mengetahui bagian yang memiliki sifat menonjol atau mempunyai nilai ekstrem, melakukan perbandingan antar bagian dengan menggunakan nilai rasio atau selisih, serta melakukan perbandingan antara bagian dengan keseluruhan dengan memakai proporsi untuk disimpulkan.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis adalah sekumpulan aktivitas dan proses, yang merangkum sejumlah data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan atau dideskripsikan. Aktifitas analisis berusaha menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti. 
Analisis penyelenenggaraan program merupakan kajian yang dilakukan terhadap pelaksanaan program guna meneliti tingkat keberhasilan program tersebut. Dalam Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang, yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang mencakup kegiatan pengamatan/observasi hasil praktek di lapangan serta mengungkap sikap atau perilaku warga belajar terhadap pelaksanaan kegiatan yang diukur melalui kuesioner atau angket.
Analisis penyelenggaraan program ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang Pokja Bidang Vokasi di RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.

2.3. Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat (PKM)
Pengertian kewirausahaan, yang didefinisikan oleh Entrepreneurship Center at Miami University of Ohioadalah sebagai berikut:
“Kewirausahaan merupakan proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan diri seseorang. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian” (Kasmir, 2007).

Zimmerer dalam Kasmir (2007) mendefinisikan kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Sedangkan Kasmir sendiri mengartikan wirausaha sebagai berikut:
“Kewirausahaan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan, berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti” (Kasmir, 2007).
Pada konteks dunia bisnis, wirausahawan adalah seseorang yang menemukan produk (barang dan jasa) baru, membuka pasar yang tadinya belum ada, memberikan nilai tambah terhadap produk yang diproduksi selama ini, yang menghubungkan: modal dan pekerja, agar modal itu semakin berkembang, digunakan semakin baik, sehingga hasilnya semakin optimal. Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas maka dibutuhkan program pendidikan kewirausahaan masyarakat (Kemdikbud, 2014).
Menurut World Economic Forum, sebuah lembaga nirlaba yang didirikan oleh 1000 perusahaan papan atas dunia yang berkedudukan di Jenewa, kewirausahaan merupakan penggerak yang sangat penting bagi kemajuan perekonomian dan sosial suatu negara. Pertumbuhan yang begitu cepat dari banyak perusahaan tak lepas dari adanya peran kewirausahaan yang dinilai sebagai sumber pertumbuhan inovasi, produktivitas dan peluang kerja (Kemdikbud, 2014). Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan masyarakat melalui program pendidikan kewirausahaan dalam bentuk regulasi dan implementasi di lapangan, diantaranya melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Presiden Republik Indonesia juga telah mencanangkan Gerakan Kewirausahaan Nasional pada 2 Februari 2011.
Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kewirausahaan adalah suatu kegiatan usaha yang melibatkan kemampuan untuk melihat kesempatan-kesempatan usaha yang kemudian mengorganisisr, mengatur, mengambil resiko, dan mengembangkan usaha yang diciptakan tersebut guna meraih keuntungan.
Bertolak dari batasan pengertian tentang kewirausahaan, terkait dengan pembelajaran keterampilan PKM Hortikultura yang berbasis kewirausahaan, pada akhir pembelajaran diharapkan peserta didik akan mencapai kompetensi lulusan yang berupa:
a.       Munculnya sikap kritis untuk melihat kesempatan usaha,
b.      Munculnya sikap sigap untuk mengambil tantangan/resiko,
c.       Munculnya kesiapan mengembangkan usaha.

2.4. Budidaya Tanaman Sayuran Organik
Budidaya dalam kontek hortikultura merupakan budidaya tanaman kebun. Kemudian hortikultura digunakan secara lebih luas bukan hanya untuk budidaya di kebun, melainkan digunakan pada jenis tanaman yang dibudidayakan. Bidang pekerjaan hortikultura meliputi pembenihan, pembibitan, kultur jaringan, produksi tanaman, hama dan penyakit, panen, pengemasan dan distribusi. Hortikultura merupakan salah satu metode budidaya pertanian modern, yang memfokuskan pada budidaya tanaman buah (pomologi/frutikultur), tanaman bunga (florikultura), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat-obatan (biofarmaka), dan taman (lansekap). Salah satu ciri khas produk hortikultura adalah perisabel atau mudah rusak karena segar (Wikipedia, 2014).
Budidaya tanaman sayuran organik yang dilaksanakan pada kegiatan ”Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-Ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang mencakup jenis-jenis tanaman sayuran cabe merah, cabe rawit, tomat, terong, sawi, kangkung darat, dan bayam. Dengan budidaya tanaman sayuran ini diharapkan ibu-ibu rumah tangga akan senang, tersedia kebututuhan dapurnya, menghemat pengeluaran belanja dan dapat berwirausaha untuk meningkatkan perekonomiannya. Di samping pembelajaran cocok tanam, dalam pelatihan PKM Hortikultura ini juga membelajarkan pembuatan media tanam dan pupuk serta pemanfaatan barang-barang bekas sebagai tempat penanaman sayuran.

2.5. Kerangka Berpikir
Kerangka berfikir dari program PKM Hortikultura budidaya tanaman sayuran organik bagi ibu-ibu rumah tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang, yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang, tim pengkajian akan meneliti apakah pembelajaran keterampilan hortikultura menanam tanaman sayuran organik dalam polibag yang diberikan kepada ibu-ibu rumah tangga efektif serta memiliki kebermanfaatan yang berarti bagi warga belajar.
Dalam pengkajian program ini, kerangka berpikir yang dikemukakan adalah program PKM Hortikultura budidaya tanaman sayuran organik dalam polibag bagi ibu-ibu rumah tangga khususnya yang tinggal di lingkungan perumahan dengan lahan pekarangan yang sempit, tidak memiliki lahan untuk bercocok-tanam, serta tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang cocok tanam, merupakan program yang sangat menarik dan menyenangkan serta memberikan hasil yang menguntungkan dalam peningkatan kesejahteraan keluarga. Dengan mengikuti pelatihan PKM Hortikultura, warga belajar menjadi mampu bercocok-tanam meskipun tidak memiliki keahlian dan lahan pekarangan yang memadai serta mampu mengembangkan jiwa wirausaha.
Sebagai input kegiatan ini adalah warga belajar (ibu-ibu rumah tangga) dengan kapasitas tidak memiliki lahan pekarangan dan tidak memiliki pengetahuan tentang cocok tanam. Prosesnya berupa pembelajaran PKM Hortikultura yang meliputi; peluang usaha melalui hortikultura, pemanfaatan pekarangan rumah, pembuatan media tanam, penyemaian benih, penanaman dan pemeliharan tanaman, kewirausahaan serta membangun jaringan kemitraan. Output atau hasil dari kegiatan berupa kemampuan ibu-ibu rumah tangga untuk membudidayakan tanaman sayuran organik dalam polibag. Sedangkan outcome yang diharapkan dari program PKM Hortikultura ini adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kewirausahaan hasil tanaman sayuran yang mereka usahakan.

WARGA BELAJAR:
Ibu-ibu rumah tangga belum memiliki kemampuan hortikultura dengan lahan terbatas
Ibu-ibu rumah tangga memiliki kompetensi bidang hortikultura
PEMBELAJARAN
teori dan praktek tentang peluang usaha, pemanfaatan pekarangan rumah, pembuatan media tanam, penyemaian benih, penanaman dan pemeliharan tanaman, kewirausahaan, membangun jaringan kemitraan

Masyarakat Sejahtera
 
















Input
Proses
Output
Outcome


Bagan 2.1: Kerangka berpikir pengembangan PKM Hortikultura


BAB III
METODE PENGKAJIAN

3.1. Pendekatan Penelitian
Pengkajian program PAUDNI tentang Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangini menggunakan pendekatan Kuantitatif. Pendekatan kuantitatif  digunakan untuk mengukur keberhasilan program dengan menggunakan data angka. Data angka diperoleh dari hasil tabulasi angket yang diisi oleh peserta pelatihan, terkait dengan berbagai masalah dalam pelaksanaan pelatihan. Pendekatan kuantitatif ini dipilih dengan alasan untuk mempermudah pengamatan tingkat keberhasilan, mulai dari input, proses, output serta outcome, karena dengan angka yang dicapai maka secara langsung keberhasilan pelatihan dapat diketahui.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan ukuran tingkatan persentase ketercapaian setiap variabel program, yang mendeskripsikan seberapa besar tingkat keberhasilan program. Hasil pengukuran dipaparkan dalam tabel dan grafik dengan tujuan untuk mempermudah pengamatan tingkat ketercapaian program. Tingkatan persentase dideskripsikan dengan uraian klasifikasi keberhasilan.

3.2. Variabel Penelitian
Variabel dalam pengkajian ini menggunakan variable random diskrit yaitu dengan cara mengambil nilai tertentu dari jawaban angket yang diberikan oleh responden untuk mengetahui besaran angka interval yang masing-masing angka besaran memiliki nilai terbilang yang dapat disebut satu persatu (Hasan, 2005). Variabel yang difokuskan dalam pengkajian ini meliputi:
a.       Aspek penyelenggaraan program keterampilan  hortikultura yang terdiri dari jenis keterampilan, sarana prasarana, model pembelajaran dan nara sumber.
b.      Aspek motivasi warga belajar dalam mengikuti kegiatan yang terdiri dari minat dan kesenangan dalam mengikuti pembelajaran.
c.       Aspek kewirausahaan dan pemasaran yang terdiri dari peluwang wira usaha dan pemasaran hasil.

3.3. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yang akan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur.Instrumen yang digunakan dalam pengkajian program ini menggunakan kuesioner atau angket. Dipilihnya kuesioner atau angket sebagai instrumen dimaksudkan untuk mempermudah dan mempercepat pengambilan data kepada seluruh responden.
Kuesioner ini dibuat dari pengembangan indikator masing-masing variabel sebagai acuan dalam mengembangkan butir-butir instrumen dalam bentuk pernyataan yang berkaitan dengan dimensi masing-masing variabel.
Berikut kisi-kisi instrumen pengkajian PAUDNI tentang Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang.




Tabel 3.1: Kisi-kisi instrumen penelitian

NO
VARIABEL
INDIKATOR
ASPEK YANG DITANYAKAN
1
Penyelenggaraan
Program keterampilan  Hortikultura
1)      Jenis keterampilan
1.      Kesesuaian jenis keterampilan yang diberikan dengan yang dibutuhkan ibu-ibu.
2.      Kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan.
3.      Kesesuaian jenis tanaman yang diberikan dengan keinginan ibu-ibu.
4.      Kebermanfaatan jenis tanaman yang diberikan bagi ibu-ibu.
5.      Kegunaan hasil untuk meningkatkan kesejahteraan.
2)      Sarana prasarana
1.      Peralatan yang digunakan mendukung pelaksanaan kegiatan.
2.      Peralatan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan.
3.      Jumlah peralatan mencukupi kebutuhan.
3)      Model pembelajaran
1.      Pembelajarannya mudah diterima atau dipahami.
2.      Pembelajarannya menarik.
3.      Inovasi (misalnya penggunaan barang bekas) dapat diterima oleh peserta pelatihan.
4)      Nara sumber
1.      Nara sumber/pengajarnya menarik.
2.      Nara sumber/pengajarnya menguasai materi.
3.      Cara mengajarnya mudah dipahami atau dimengerti.
2
Motivasi warga belajar dalam mengikuti kegiatan
1)      Minat
1.      Keberminatan peserta mengikuti pelatihan tanaman hortikultura.
2.      Keberminatan peserta untuk menanam sayuran di rumah.

3.      Keberminatan peserta untuk mengembangkan tanaman sayuran.
4.      Keberminatan peserta untuk menanam lebih banyak.
2)      Kesenangan
1.      Peserta merasa senang dengan adanya pelatihan hortikultura tanaman sayuran organik.
2.      Peserta merasa senang memperoleh/memanen hasil tanaman sayuran yang  ditanam sendiri.
3
Kewirausahaan dan Pemasaran
1)      Peluang wira usaha
1.      Hasil pelatihan memberi peluang untuk berwirausaha.
2)      Pemasaran hasil
1.      Hasil tanaman sayuran mempunyai nilai jual.


Instrumen penelitian terlampir.

3.4. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. Sumber Data
Sumber data dalam pengkajian program PAUDNI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangadalah peserta pelatihan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang di RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Semarang pada tahun 2014, yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga sebanyak 25 warga belajar. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dimana setiap populasi dijadikan sebagai sumber data, yang terdiri dari seluruh peserta pelatihan PKM Hortikultura. (Daftar sumber data terlampir).

3.4.2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam pengkajian program ini adalah dengan menggunakan angket atau kuesioner tertutup. Angket tertutup adalah angket yang disusun dengan menyediakan jawaban lengkap sehingga responden tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih (Suharsimi Arikunto,1996). Teknik angket atau kuesioner digunakan sebagai alat komunikasi tidak langsung untuk mengungkap permasalahan-permasalahan faktual yang secara mudah dan tanpa ragu-ragu dapat dijawab oleh responden untuk menggali informasi yang relevan berkaitan dengan penyelenggaraan pelatihan PKM Hortikultura.
Dalam penelitian ini angket ditujukan kepada responden penelitian, yaitu peserta atau warga belajar PKM Hortikultura sebanyak 25 ibu-ibu peserta yang merupakan warga RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Semarang, yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang pada tahun 2014.

3.5. Teknik Analisis Data
Hasan (2005) dalam bukunya “Pokok-pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif)” menyebutkan bahwa analisis memiliki 3 arti, sebagai berikut.
a.       Membandingkan dua hal atau dua nilai variabel untuk mengetahui selisihnya atau rasionya, kemudian menyimpulkan.
b.      Menguraikan atau memcahkan suatu keseluruhan menjadi komponen-komponen yang lebih kecil, sesuai dengan tujuan analisis agar dapat mengetahui bagian yang memiliki sifat menonjol atau mempunyai nilai ekstrem, melakukan perbandingan antar bagian dengan menggunakan nilai rasio atau selisih, serta melakukan perbandingan antara bagian dengan keseluruhan dengan memakai proporsi untuk disimpulkan.
c.       Memperkirakan atau memperhitungkan besar pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu kejadian terhadap kejadian lainnya, kemudian meramalkan.
Metode analisis data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah analisis data ordinal dengan melakukan penghitungan persentase data hasil penelitian. Data ordinal adalah data yang penomoran obyek atau kategorinya disusun menurut besarnya, yaitu dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi atau sebaliknya dengan jarak/rentang yang tidak harus sama, kategori data disusun berdasarkan urutan logis dan sesuai dengan besarnya karakteristik yang dimiliki (Hasan, 2005). Teknik analisis data ordinal  ini mengubah persentase hasil perolehan skor untuk diubah menjadi nilai kriteria/tingkatan keberhasilan program. Adapun untuk menentukan tingkatan keberhasilan program dengan menggunakan analisis data ordinal hasil ukuran besaran persentase ini ditentukan sebagai berikut.
1)      Kurang dari 50%   = sangat tidak baik/sangat rendah
2)      50% - 64%            = tidak baik/rendah
3)      65% - 74%                        = cukup
4)      75% - 89%                        = baik/tinggi
5)      90% ke atas           = sangat baik/sangat tinggi
Dari hasil analisis pada pengkajian program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang, akan diketahui tingkat keberhasilannya mulai dari sangat tidak baik/sangat rendah sampai dengan sangat baik/sangat tinggi.

BAB IV
HASIL PENGKAJIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Pengkajian
4.1.1. Lokasi dan Waktu Pelatihan
1) Lokasi pengkajian dilaksnakan pada kelompok percontohan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang tahun 2014, yang menyelenggarakan program hortikultura/budidaya tanaman sayuran organik dalam polibag bagi ibu-ibu rumah tangga, dengan alamat sebagai berikut:
Lokasi            : Komplek perumahan  Perumnas  Banyumanik,
                         Jalan Kanfer Utara - Waru RW VI Pedalangan
Kelurahan      : Pedalangan
Kecamatan     : Banyumanik
Kota               : Semarang
Provinsi          : Jawa Tengah

2)   Waktu
Waktu pelaksanaan pengkajian adalah sebagai berikut.
Tabel 4.1: Jadwal pelaksanaan Pengkajian
No
Jenis Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Lokasi/Tempat
1
Penyusunan desain pengkajian
4 – 10Oktober 2014
SKB Semarang
2
Penyusunan instrument
11 – 17 Oktober 2014
SKB Semarang
3
Validasi instrument
18 – 24 Oktober 2014
SKB Semarang
4
Orientasi petugas pengambil data
10 – 15November 2014
SKB Semarang
5
Pengambilan data di lapangan
17 – 22 November 2014
RW VI Pedalangan Banyumanik
6
Pengolahan dan analisa data
24 – 29 November 2014
SKB Semarang
7
Penyusunan laporan
1 – 6 Desember 2014
SKB Semarang
8
Cetak dan penggandaan laporan
7 – 13 Desember 2014
Fotocopy dan penjilidan

4.1.2. Latar Belakang Peserta Pelatihan
Peserta didik atau warga belajar terdiri dari ibu-ibu rumah tangga di lingkungan RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik, sebagai ibu yang mengurusi rumah tangga atau dapur dan memasak sendiri, sehingga tahu bahwa kebutuhan sayur di dapur mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dengan diberikan pelatihan PKM Hortikultura tanaman sayuran organik ini, diharapkan ibu-ibu akan merasakan manfaat secara langsung dalam bercocok tanam sayuran yang dibutuhkan dalam keseharian, serta dapat menghitung keuntungan yang diperoleh dari hasil pelatihan yang dapat dipetik sendiri dari hasil tanamannya.
Pelatihan diberikan kepada ibu-ibu yang ditetapkan oleh kelompok PKK RT untuk mewakili lingkungannya. Peserta tinggal di lingkungan perumahan (perumnas) yang tidak memiliki lahan pekarangan (sempit) sehingga merasa kesulitan untuk melakukan cocok tanam. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada upaya meningkatkan kreativitas peserta dalam bercocok tanam tanpa lahan. Kondisi ibu rumah tangga yang butuh bahan sayuran untuk masak-memasak, ditambah dengan sempitnya lahan pekarangan yang tidak memungkinkan untuk digunakan bercocok tanam, maka model penanaman sayuran dalam polibag ini sangat mencerahkan bagi mereka.
Adapun kriteria secara umum yang ditetapkan bagi peserta untuk mengikuti pelatihan PKM Hortikultura adalah ibu-ibu rumah tangga dengan karakteristik sebagai berikut:
1.      Ibu rumah tangga tinggal di lingkungan perumnas,
2.      Memiliki waktu luang untuk mengikuti pelatihan dan mempraktekkan bercocok tanam,
3.      Sanggup menanam dan merawat tanaman sayuran yang dipraktekkan,
4.      Gigih dan tekun dalam berusaha untuk menghasilkan sayuran hasil budidaya yang dikembangkan dalam pelatihan,
5.      Berani menerima tantangan untuk berwirausaha dibidang hortikultura tanaman sayuran organik.

4.1.3. Produk-Produk Hasil Kegiatan
Program percontohan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang, menitikberatkan pada tanaman hortikultura sayuran organik, dengan hasil yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh ibu-ibu rumah tangga, baik dimasak sendiri maupun dijual. Adapun produk yang  dihasilkan meliputi:
a.   Sawi bakso
b.  Kangkung darat
c.   Bayam
d.  Terong
e.   Tomat
f.   Cabe keriting/merah
g.  Cabe rawit
h.  Selada

4.2. Hasil Pengkajian
4.2.1. Aspek Penyelenggaraan Program
Aspek penyelenggaraan program membahas masalah yang meliputi; 1) jenis keterampilan, 2) sarana prasarana, 3) model pembelajaran,  dan 4) nara sumber.
1) Jenis keterampilan
Dari jenis keterampilan yang diberikan kepada peserta, pengkajian difokuskan pada masalah; a) kesesuaian jenis keterampilan yang diberikan dengan yang dibutuhkan oleh ibu-ibu atau peserta, b) kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan kepada peserta, c) kesesuaian jenis tanaman yang diberikan dengan keinginan ibu-ibu, d) kebermanfaatan jenis tanaman yang diberikan bagi ibu-ibu, dan e) kegunaan hasil pelatihan untuk meningkatkan kesejahteraan.
a)        Kesesuaian jenis keterampilan yang diberikan dengan yang dibutuhkan.
Dari pernyataan tentang kesesuaian jenis keterampilan yang diberikan, yaitu hortikultura tanaman sayuran organik, dengan kebutuhan peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan ibu-ibu?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.2: Kesesuaian jenis keterampilan dengan yang dibutuhkan peserta
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat sesuai
2
8 %
2
Sesuai
23
92%
3
Biasa saja
0
0 %
4
Kurang sesuai
0
0 %
5
Tidak sesuai
0
0 %


Dari tabel 4.2 dapat dideskripsikan bahwa jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 23 orang atau 92% peserta menyatakan sesuai dan 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat sesuai. Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan, dapat dilihat dalam grafik 4.1.

Grafik 4.1: Kesesuaian jenis keterampilan dengan yang dibutuhkan peserta


b)        Kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan.
Dari pernyataan tentang kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan, yaitu hortikultura tanaman sayuran organik, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah jenis keterampilan bermanfaat?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.3: Jenis keterampilan  yang diberikan bermanfaat
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat bermanfaat
6
24 %
2
Bermanfaat
19
76 %
3
Biasa saja
0
0 %
4
Kurang bermanfaat
0
0 %
5
Tidak bermanfaat
0
0 %


Hasil analisis tabel 4.3 dapat dideskripsikan bahwa jenis keterampilan yang diberikan dalam pelatihan PKM hortikultura bermanfaat. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 19 orang atau 76% peserta menyatakan bermanfaat dan 6 orang atau 24% peserta menyatakan sangat bermanfaat. Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa keterampilan yang diberikan bermanfaat, dapat dilihat dalam grafik 4.2.

Grafik 4.2: Jenis keterampilan yang diberikan bermanfaat


c)        Kesesuaian jenis tanaman yang diberikan dengan keinginan ibu-ibu.
Dari pernyataan tentang kesesuaian jenis tanaman yang diberikan dengan keinginan peserta pelatihan, yaitu tanaman sayuran, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah jenis tanaman yang diberikan sesuai dengan keinginan ibu-ibu?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.4: Kesesuaian jenis tanaman dengan keinginan peserta
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat sesuai
1
4 %
2
Sesuai
24
96 %
3
Biasa saja
0
0 %
4
Kurang sesuai
0
0 %
5
Tidak sesuai
0
0 %


Dari tabel 4.4 dapat dideskripsikan bahwa jenis tanaman yang diberikan sesuai dengan keinginan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 24 orang atau 96% peserta menyatakan sesuai dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat sesuai. Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis tanaman yang diberikan sesuai dengan yang diinginkan peserta, dapat dilihat dalam grafik 4.3.
Grafik 4.3: Kesesuaian jenis tanaman dengan yang diinginkan peserta
d)       Kebermanfaatan jenis tanaman yang diberikan bagi ibu-ibu
Dari pernyataan tentang kebermanfaatan jenis tanaman yang ditanam, yaitu tanaman sayuran, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah jenis tanaman yang diberikan bermanfaat bagi ibu-ibu?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.5: Jenis tanaman yang diberikan bermanfaat
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat bermanfaat
4
16 %
2
Bermanfaat
21
84 %
3
Biasa saja
0
0 %
4
Kurang bermanfaat
0
0 %
5
Tidak bermanfaat
0
0 %


Hasil analisis tabel 4.5 dapat dideskripsikan bahwa jenis tanaman yang diberikan bermanfaat bagi peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 21 orang atau 84% peserta menyatakan bermanfaat dan 4 orang atau 16% peserta menyatakan sangat bermanfaat. Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis tanaman yang diberikan bermanfaat, dapat dilihat dalam grafik 4.4.

Grafik 4.4: Kebermanfaatan jenis tanaman yang diberikan

e)        Kegunaan hasil untuk meningkatkan kesejahteraan
Dari pernyataan tentang kegunaan hasil keterampilan yang diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah hasilnya berguna untuk meningkatkan kesejahteraan?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.6: Hasil keterampilan berguna meningkatkan kesejahteraan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat berguna
2
8 %
2
Berguna
18
72 %
3
Biasa saja
5
20 %
4
Kurang berguna
0
0 %
5
Tidak berguna
0
0 %


Analisis tabel 4.6 dapat dideskripsikan bahwa hasil pelatihan keterampilan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 18 orang atau 72% peserta menyatakan berguna, 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat berguna, dan hanya 5 orang atau 20% peserta yang menyatakan biasa saja. Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa hasil pelatihan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan, dapat dilihat dalam grafik 4.5.
Grafik 4.5: Hasil pelatihan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan

2) Sarana prasarana
a)        Peralatan yang digunakan mendukung pelaksanaan kegiatan.
Dari pernyataan tentang peralatan yang digunakan mendukung pelaksanaan kegiatan bagi peserta, ketika diberi pertanyaan “Apakah peralatan yang digunakan mendukung pelaksanaan kegiatan?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.7: Peralatan yang digunakan mendukung kegiatan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat mendukung
4
16 %
2
Mendukung
19
76 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang mendukung
1
4 %
5
Tidak mendukung
0
0 %


Dari tabel 4.7 dapat dideskripsikan bahwa peralatan yang digunakan mendukung kegiatan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 19 orang atau 76% peserta menyatakan mendukung dan 4 orang atau 16% peserta menyatakan sangat mendukung. Namun demikian ada 1 orang atau 4% peserta yang menyatakan kurang mendukung dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan biasa saja. Hal ini perlu diperhatikan untuk pelaksanaan berikutnya agar peralatan mampu mendukung seluruh kegiatan.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peralatan yang diberikan mendukung ataupun kurang mendukung dalam pelaksanaan pelatihan, dapat dilihat dalam grafik 4.6.

Grafik 4.6: Peralatan yang diberikan mendukung pelaksanaan kegiatan

b)        Peralatan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Dari pernyataan tentang peralatan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah peralatan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.8: Peralatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat sesuai
1
4 %
2
Sesuai
21
84 %
3
Biasa saja
3
12 %
4
Kurang sesuai
0
0 %
5
Tidak sesuai
0
0 %


Analisis data pada tabel 4.8 dapat dideskripsikan bahwa peralatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 21 orang atau 84% peserta menyatakan sesuai dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat sesuai. Namun demikian ada 3 orang atau 12% peserta yang menyatakan biasa saja, hal ini dapat digunakan sebagai acuan penyelenggara untuk merefleksi diri pada penyediaan peralatan dalam upaya peningkatan pelaksanaan program yang akan datang.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peralatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, dapat dilihat dalam grafik 4.7 berikut ini.

Grafik 4.7: Kesesuaian jenis peralatan dengan yang dibutuhkan

c)        Jumlah peralatan mencukupi kebutuhan.
Dari pernyataan tentang jumlah peralatan yang diberikan mencukupi kebutuhan bagi peserta, ketika diberi pertanyaan “Apakah jumlah peralatan mencukupi kebutuhan?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.9: Peralatan mencukupi kebutuhan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat Mencukupi
1
4 %
2
Mencukupi
17
68 %
3
Biasa saja
4
16 %
4
Kurang mencukupi
3
12 %
5
Tidak mencukupi
0
0 %


Analisis dari tabel 4.9 dapat dideskripsikan bahwa peralatan yang diberikan mencukupi kebutuhan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 17 orang atau 68% peserta menyatakan mencukupi dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat mencukupi. Namun demikian ada 4 orang atau 16% peserta yang menyatakan biasa saja dan 3 orang atau 12% peserta menyatakan kurang mencukupi. Hal ini perlu dijadikan perhatian bagi pengelola dalam hal pemenuhan kebutuhan peralatan untuk peningkatan pelaksanaan kegiatan yang akan datang.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peralatan mencukupi kebutuhan, dapat dilihat dalam grafik 4.8.

Grafik 4.8: Peralatan mencukupi kebutuhan peserta

3) Model pembelajaran
a)        Pembelajarannya mudah diterima atau dipahami
Dari pernyataan tentang kemudahan pembelajaran yang diberikan, ketika diberi pertanyaan “Apakah pembelajarannya mudah diterima atau dipahami?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.10: Pembelajaran mudah diterima atau dipahami
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat mudah dipahami
1
4 %
2
Mudah dipahami
23
92 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang mudah dipahami
0
0 %
5
Tidak mudah/sulit dipahami
0
0 %


Dari tabel 4.10 dapat dideskripsikan bahwa pembelajaran mudah diterima atau dipahami oleh peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 23 orang atau 92% peserta menyatakan pembelajaran mudah dipahami dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat mudah dipahami, sedangkan 1 orang atau 4% peserta menyatakan bahwa pembelajaran biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa pembelajaran mudah dipahami atau mudah diterima, dapat dilihat dalam grafik 4.9.

Grafik 4.9: Kesesuaian jenis keterampilan dengan yang dibutuhkan peserta

b)        Pembelajarannya menarik
Dari pernyataan tentang pembelajaran yang diberikan menarik, ketika diberi pertanyaan “Apakah pembelajarannya menarik?” diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.11: Pembelajarannya menarik
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat menarik
3
12 %
2
Menarik
18
72 %
3
Biasa saja
4
16 %
4
Kurang menarik
0
0 %
5
Tidak menarik
0
0 %

Dari tabel 4.11 dapat dideskripsikan bahwa pembelajaran yang disampaikan menarik bagi peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 18 orang atau 72% peserta menyatakan menarik dan 3 orang atau 12% peserta menyatakan sangat menarik. Namun demikian masih ada 4 orang atau 16% peserta yang menyatakan biasa saja. Hal ini harus menjadi perhatian bagi penyelenggara dalam menerapkan metode pembelajaran pada kegiatan yang akan datang.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis pembelajarannya menarik bagi peserta, dapat dilihat dalam grafik 4.10.

Grafik 4.10: Model pembelajaran yang diberikan menarik

c)        Inovasi program dapat diterima oleh peserta
Dari pernyataan tentang inovasi program yang diberikan dalam kegiatan pelatihan, ketika diberi pertanyaan “Apakah inovasi (misalnya penggunaan barang bekas) dapat atau bisa diterima oleh ibu-ibu?” diperoleh hasil sebagai berikut.





Tabel 4.12: Inovasi pemanfaatan barang bekas diterima peserta
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat diterima
3
12 %
2
Diterima
22
88 %
3
Biasa saja
0
0 %
4
Kurang diterima
0
0 %
5
Tidak diterima
0
0 %


Analisis hasil pengkajian pada tabel 4.12 tentang pemanfatan barang bekas dapat dideskripsikan bahwa inovasi pemanfaatan barang bekas dapat diterima oleh peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 22 orang atau 88% peserta menyatakan dapat diterima dan 3 orang atau 12% peserta menyatakan bahwa pemanfaatan barang bekas sangat diterima.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa inovasi pemanfaatan barang bekas dapat diterima oleh peserta, dapat dilihat dalam grafik 4.11.

Grafik 4.11: Penerimaan inovasi pemanfaatan barang bekas

4) Nara sumber
a)        Nara sumber/pengajarnya menarik
Dari pernyataan tentang kemenarikan nara sumber/pengajar yang menyampaikan materi, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah nara sumber/pengajarnya menarik?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.13: Nara sumber/pengajar menarik
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat menarik
1
4 %
2
Menarik
21
84 %
3
Biasa saja
3
12 %
4
Kurang menarik
0
0 %
5
Tidak menarik
0
0 %


Dari tabel 4.13 dapat dideskripsikan bahwa nara sumber/pengajar dalam menyampaikan materi pelatihan menarik bagi peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 21 orang atau 84% peserta menyatakan nara sumber menarik dan 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat menarik. Namun demikian masih ada 3 orang atau 12% peserta yang menyatakan nara sumber yang mengajar biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa nara sumber/pengajarnya menarik, dapat dilihat dalam grafik 4.12.

Grafik 4.12: Nara sumber/pengajar menarik


b)        Nara sumber/pengajarnya menguasai materi
Dari pernyataan tentang penguasaan materi dari nara sumber atau pengajarnya, ketika diberi pertanyaan “Apakah nara sumber/pengajarnya menguasai materi?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.14: Nara sumber/pengajar menguasai materi
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat menguasai
2
8 %
2
Menguasai
22
88 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang menguasai
0
0 %
5
Tidak menguasai
0
0 %


Dari tabel 4.14 dapat dideskripsikan bahwa jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 22 orang atau 88% peserta menyatakan menguasai materi dan 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat menguasai materi. Namun demikian masih ada 1 orang atau 4% peserta yang menyatakan biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa nara sumber/pengajar menguasai materi, dapat dilihat dalam grafik 4.13.
Grafik 4.13: Nara sumber/pengajar menguasai materi

c)        Cara mengajarnya mudah dipahami atau dimengerti
Dari pernyataan tentang cara mengajar yang diberikan mudah dipahami atau dimengerti oleh peserta pelatihan, ketika diberi pertanyaan “Apakah cara mengajarnya mudah dipahami atau dimengerti?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.15: Cara mengajar mudah dipahami
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat mudah dipahami
2
8 %
2
Mudah dipahami
21
84 %
3
Biasa saja
2
8 %
4
Kurang mudah dipahami
0
0 %
5
Tidak mudah/sulit dipahami
0
0 %


Analisis hasil cara mengajar nara sumber dapat dipahami oleh peserta pelatihan seperti tertera pada tabel 4.15 dapat dideskripsikan bahwa cara mengajar nara sumber/pengajar mudah dipahami oleh peserta pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 21 orang atau 84% peserta menyatakan mudah dipahami dan 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat mudah dipahami. Meskipun demikian masih ada 2 orang atau 8% peserta pelatihan yang menyatakan biasa saja. Hal ini harus dipahami oleh penyelenggara dalam cara mengajar yang dilakukan oleh nara sumber sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan cara-cara mengajar yang menarik pada kegiatan yang akan datang.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban cara mengajar nara sumber mudah dipahami, dapat dilihat dalam grafik 4.14.

Grafik 4.14: Cara mengajar nara sumber mudah dipahami peserta


4.2.2. Aspek Motivasi Warga Belajar
Menurut Hasibuan (2005) ada beberapa tujuan yang dapat diperoleh dari pemberian motivasi yaitu:
a.       Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
b.      Meningkatkan prestasi kerja karyawan
c.       Meningkatkan kedisiplinan karyawan
d.      Mempertahankan kestabilan perusahaan
e.       Mengefektifkan pengadaan karyawan
f.       Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
g.      Meningkatkan loyalitas, kreatifitas dan partisipasi
h.      Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
i.        Meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas
j.        Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku
Dalam mengikuti kegiatan pelatihan PKM Hortikultura yang kegiatannya menanam tanaman sayuran kebutuhan sehari-hari, motivasi warga belajar dilihat dari penanaman minat dan kesenangan dalam mengikuti pembelajaran memperoleh hasil sebagai berikut.
1)        Minat
a)        Keberminatan peserta mengikuti pelatihan PKM hortikultura.
Dari pernyataan tentang keberminatan peserta dalam mengikuti pelatihan, yaitu PKM hortikultura tanaman sayuran organik, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda berminat mengikuti pelatihan tanaman hortikultura?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.16: Peserta berminat mengikuti pelatihan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat berminat
2
8 %
2
berminat
19
76 %
3
Biasa saja
3
12 %
4
Kurang berminat
0
0 %
5
Tidak berminat
1
4 %


Dari tabel 4.16 dapat dideskripsikan peserta pelatihan berminat mengikuti pelatihan keterampilan hortikultura. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 19 orang atau 76% peserta menyatakan berminat dan 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat berminat. Namun demikian masih ada 3 orang atau 12% peserta yang menyatakan biasa saja dan 1 orang atau 4% peserta yang menyatakan tidak berminat. Hal ini harus dijadikan bahan pertimbangan penyelenggara dalam pelaksanaan kegiatan beriktnya untuk lebih menyeleksi peserta, ditentukan peserta yang betul-betul berminat mengikuti pelatihan.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peserta berminat untuk mengikuti pelatihan, dapat dilihat dalam grafik 4.15.
Grafik 4.15: Peserta berminat untuk mengikuti pelatihan

b)        Keberminatan peserta untuk menanam sayuran di rumah.
Dari pernyataan tentang keberminatan peserta untuk menanam sayuran di rumashnya, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda berminat untuk menanam sayuran di rumah?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.17: Peserta berminat menanam sayuran di rumah
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat berminat
11
44 %
2
Berminat
17
68 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang berminat
0
0 %
5
Tidak berminat
0
0 %


Dari tabel 4.17 dapat dideskripsikan bahwa peserta pelatihan berminat untuk menanam sayuran di rumahnya. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 17 orang atau 68% peserta menyatakan berminat dan 11 orang atau 44% peserta menyatakan sangat berminat. Hanya 1 orang atau 4% peserta yang menyatakan biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peserta berminat untuk menanam sayuran di rumah, dapat dilihat dalam grafik 4.16.

Grafik 4.16: Peserta berminat menanam sayuran di rumah

c)        Keberminatan peserta untuk mengembangkan tanaman sayuran.
Dari pernyataan tentang keberminatan peserta untuk mengembangkan hasil pelatihan, yaitu hortikultura tanaman sayuran organik, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda berminat untuk mengembangkan tanaman sayuran tersebut?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.18: Peserta berminat mengembangkan tanaman sayuran
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat berminat
2
8 %
2
Berminat
15
60 %
3
Biasa saja
8
32 %
4
Kurang berminat
0
0 %
5
Tidak berminat
0
0 %


Dari tabel 4.18 dapat dideskripsikan bahwa keberminatan peserta pelatihan untuk mengembangkan tanaman sayuran di rumahnya belum maksimal. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 2 orang atau 8% peserta menyatakan sangat berminat, 15 orang atau 60% peserta menyatakan berminat dan 8 orang atau 32% peserta menyatakan biasa saja. Hal ini disebabkan peserta pelatihan tidak memiliki lahan pekarangan atau merasa kesulitan untuk mengembangkan hasil pelatihan di rumahnya.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peserta berminat untuk mengembangkan tanaman sayuran di rumahnya, dapat dilihat dalam grafik 4.17.
Grafik 4.17: Keberminatan peserta untuk mengembangkan hasil pelatihan

d)       Keberminatan peserta untuk menanam lebih banyak.
Dari pernyataan tentang keberminatan peserta mengembangkan usaha untuk menanam lebih banyak hasil pelatihan yang diberikan, yaitu tanaman sayuran organik, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda berminat untuk menanam lebih banyak lagi?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.19: Berminat menanam lebih banyak
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat berminat
1
4 %
2
Berminat
14
56 %
3
Biasa saja
9
36 %
4
Kurang berminat
0
0 %
5
Tidak berminat
1
4 %


Dari tabel 4.19 dapat dideskripsikan bahwa peserta pelatihan berminat untuk menanam tanaman sayuran lebih banyak lagi. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat berminat dan 14 orang atau 56% peserta menyatakan berminat. Namun demikian masih ada 9 orang atau 36% peserta pelatihan menyatakan biasa saja dan 1 orang atau 4% peserta pelatihan yang menyatakan tidak berminat. Hal ini kembali pada permasalahan kepemilikan lahan untuk melaksanakan kegiatan budidaya sayuran memang tidak ada.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa mereka berminat untuk menanam lebih banyak, dapat dilihat dalam grafik 4.18.

Grafik 4.18: Peserta pelatihan berminat menanam lebih banyak

2)        Kesenangan
a)        Peserta merasa senang dengan adanya pelatihan hortikultura tanaman sayuran organik.
Dari pernyataan tentang kesenangan peserta dalam mengikuti pelatihan keterampilan hortikultura tanaman sayuran organik, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda merasa senang dengan adanya pelatihan hortikultura tanaman sayuran organik?” diperoleh hasil sebagai berikut.


Tabel 4.20: Peserta senang mengikuti pelatihan
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat senang
6
24 %
2
Senang
18
72 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang senang
0
0 %
5
Tidak senang
0
0 %


Dari tabel 4.20 dapat dideskripsikan bahwa peserta pelatihan merasa senang dalam mengikuti pelatihan. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 6 orang atau 24% peserta menyatakan sangat senang dan 18 orang atau 72% peserta menyatakan senang. Sedangkan 1 orang atau 4% peserta pelatihan menyatakan biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa peserta senang mengikuti pelatihan, dapat dilihat dalam grafik 4.19.

Grafik 4.19: Peserta senang mengikuti pelatihan

b)        Peserta merasa senang memperoleh/memanen hasil tanaman sayuran yang  ditanam sendiri.
Dari pernyataan tentang kesenangan peserta memanen hasil tanamannya sendiri, ketika diberi pertanyaan “Apakah Anda merasa senang memperoleh/memanen hasil tanaman sayuran yang Anda tanam sendiri?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.21: Senang memanen tanaman sendiri
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat senang
7
28 %
2
Senang
17
68 %
3
Biasa saja
1
4 %
4
Kurang senang
0
0 %
5
Tidak senang
0
0 %


Dari tabel 4.21 dapat dideskripsikan bahwa peserta pelatihan senang memanen tanaman sendiri. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 7 orang atau 28% peserta menyatakan sangat senang dan 17 orang atau 68% peserta menyatakan senang. Sedangkan 1 orang atau 4% peserta pelatihan menyatakan biasa saja.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan, dapat dilihat dalam grafik 4.20.

Grafik 4.20: Peserta pelatihan senang memanen tanaman sendiri

4.2.3. Aspek Kewirausahaan dan Pemasaran
Pada aspek kewirausahaan dan pemasaran, pembahasan difokuskan pada  peluwang wira usaha dan pemasaran hasil.
1) Peluang wira usaha
Dari pernyataan tentang hasil pelatihan memberikan peluang untuk berwirausaha, bagi peserta yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, ketika diberi pertanyaan “Apakah hasil pelatihan yang Anda ikuti member peluang kepada Anda untuk berwirausaha?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.22: Peluang wirausaha
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat memberi peluang
1
4 %
2
Memberi peluang
14
56 %
3
Biasa saja
9
36 %
4
Kurang memberi peluang
1
4 %
5
Tidak memberi peluang
0
0 %


Dari tabel 4.22 dapat dideskripsikan bahwa hasil pelatihan memberikan peluang wirausaha bagi peserta. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 1 orang atau 4% peserta menyatakan sangat memberi peluang dan 14 orang atau 56% peserta menyatakan memberi peluang. Walaupun demikian ada 9 orang atau 36% peserta pelatihan yang menyatakan biasa saja serta 1 orang atau 4% peserta yang menyatakan kurang memberi peluang.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa jenis keterampilan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan, dapat dilihat dalam grafik 4.21.

Grafik 4.21: Hasil pelatihan member peluang wirausaha

2) Pemasaran hasil
Dari pernyataan tentang pemasaran hasil keterampilan yang diberikan, yaitu tanaman sayuran organik, ketika diberi pertanyaan “Apakah hasil tanaman sayuran Anda mempunyai nilai jual atau dapat dijual?” diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4.23: Hasil pelatihan mempunyai nilai jual
No
Jawaban yang diberikan
Jumlah
Persentase
1
Sangat memiliki nilai jual
0
0 %
2
Memiliki nilai jual
8
32%
3
Biasa saja
15
60 %
4
Kurang memiliki nilai jual
0
0 %
5
Tidak memiliki nilai jual
2
8 %


Dari tabel 4.23 dapat dideskripsikan bahwa hasil pelatihan keterampilan yang diberikan belum mempunyai atau belum memiliki nilai jual. Hal ini ditunjukkan dari 25 peserta pelatihan, 8 orang atau 32% peserta menyatakan memiliki nilai jual, 15 orang atau 60% peserta menyatakan biasa saja, dan 2 orang atau 8% peserta menyatakan tidak memiliki nilai jual.  Hal ini merupakan maslah yang harus ditangani oleh penyelenggara agar hasil dari pelatihan benar-benar dapat diperdagangkan dengan nilai jual yang memadai atau menguntungkan.
Untuk memperjelas perbandingan besarnya peserta pelatihan yang memberikan jawaban bahwa tanaman sayuran yang dikembangkan memiliki nilai jual, dapat dilihat dalam grafik 4.22.

Grafik 4.22: Hasil pelatihan mempunyai nilai jual


4.3. Pembahasan Hasil Pengkajian
Dari hasil pengkajian dapat dideskripsikan bahwa “Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarangyang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang pada tahun 2014 secara umum terlaksana secara baik atau tinggi. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut.

Tabel 4.24: Capaian hasil pelaksanaan PKM Hortikultura SKB Kota Semarang tahun 2014

NO
ASPEK
JUMLAH SKOR
CAPAIAN HASIL
KATEGORI
1
Kesesuaian jenis keterampilan yang diberikan dengan yang dibutuhkan ibu-ibu.
102
82%
Baik/Tinggi
2
Kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan.
106
85%
Baik/Tinggi
3
Kesesuaian jenis tanaman yang diberikan dengan keinginan ibu-ibu.
101
81%
Baik/Tinggi
NO
ASPEK
JUMLAH SKOR
CAPAIAN HASIL
KATEGORI
5
Kegunaan hasil untuk meningkatkan kesejahteraan.
97
78%
Baik/Tinggi
6
Peralatan yang digunakan mendukung pelaksanaan kegiatan.
99
79%
Baik/Tinggi
7
Peralatan yang diberikan sesuai dengan yang dibutuhkan.
98
78%
Baik/Tinggi
8
Jumlah peralatan mencukupi kebutuhan.
91
73%
Cukup
9
Pembelajarannya mudah diterima atau dipahami.
100
80%
Baik/Tinggi
10
Pembelajarannya menarik.
99
79%
Baik/Tinggi
11
Inovasi (misalnya penggunaan barang bekas) dapat diterima oleh peserta pelatihan.
103
82%
Baik/Tinggi
12
Nara sumber/pengajarnya menarik.
98
78%
Baik/Tinggi
13
Nara sumber/pengajarnya menguasai materi.
101
81%
Baik/Tinggi
14
Cara mengajarnya mudah dipahami atau dimengerti.
100
80%
Baik/Tinggi
15
Keberminatan peserta mengikuti pelatihan tanaman hortikultura.
96
77%
Baik/Tinggi
16
Keberminatan peserta untuk menanam sayuran di rumah.
106
85%
Baik/Tinggi
17
Keberminatan peserta untuk mengembangkan tanaman sayuran.
94
75%
Baik/Tinggi
18
Keberminatan peserta untuk menanam lebih banyak.
89
71%
Cukup
19
Peserta merasa senang dengan adanya pelatihan hortikultura tanaman sayuran organik.
105
84%
Baik/Tinggi
20
Peserta merasa senang memperoleh/memanen hasil tanaman sayuran yang  ditanam sendiri.
106
85%
Baik/Tinggi
21
Hasil pelatihan memberi peluang untuk berwirausaha.
90
72%
Cukup
22
Hasil tanaman sayuran mempunyai nilai jual.
79
63%
Tidak Baik/ Rendah


Rincian penghitungan skor tiap aspek terlampir.
Penentuan kriteria capaian hasil pelaksanaan pelatihan PKM Hortikultura didasarkan pada ketentuan berikut:
1)      Kurang dari 50%   = sangat tidak baik/sangat rendah
2)      50% - 64%            = tidak baik/rendah
3)      65% - 74%                        = cukup
4)      75% - 89%                        = baik/tinggi
5)      90% ke atas           = sangat baik/sangat tinggi

Dari hasil analisis tabel 4.24 tentang capaian hasil pelaksanaan pelatihan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang di RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Semarang, dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga, dari 22 (dua puluh dua) aspek  yang diukur, 18 aspek dinyatakan masuk dalam kriteria baik atau tinggi, 3 aspek masuk dalam kriteria cukup, dan 1 aspek masuk dalam kriteria tidak baik atau rendah.
Capaian hasil yang tertinggi diperoleh pada aspek; 1) kebermanfaatan jenis keterampilan yang diberikan, 2) keberminatan peserta untuk menanam sayuran di rumah, dan 3) peserta merasa senang memperoleh atau memanen hasil tanaman sayuran yang ditanam sendiri.
Aspek pelatihan yang memperoleh nilai atau kategori cukup adalah; 1) jumlah peralatan dengan kebutuhan, 2) keberminatan peserta untuk menanam lebih banyak, dan 3) hasil pelatihan dengan peluang berwirausaha. Sedangkan aspek pelatihan yang memperoleh nilai atau kriteria paling rendah dengan kategori tidak baik atau rendah adalah nilai jual dari hasil tanaman dalam pelatihan. Hal ini berarti hasil pelatihan belum bisa dipasarkan atau dijual.
Kendala utama dari pelatihan PKM Hortikultura ini adalah tidak adanya lahan atau pekarangan rumah yang sangat sempit, sehingga minat dan motivasi yang tinggi dari peserta menjadi kandas karena tidak mampu untuk mengembangkan lebih banyak lagi, yang tentunya kurang memberikan peluang usaha serta tidak memungkinkan untuk melakukan penjualan. Dari kendala ini dapat dijadikan behan renungan untuk pelaksanaan kegiatan yang sama di masa yang akan datang.


BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1. Simpulan
Dari hasil analisis data dan pembahasan pada bab IV dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
a.       Hasil pelaksanaan pelatihan PKM Hortikultura yang diselenggarakan oleh SKB Kota Semarang di RW VI Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Semarang, secara umum masuk dalam kategori baik atau tinggi.
b.      Aspek yang mencapai kategori cukup ada 3, yaitu; 1) jumlah peralatan dengan kebutuhan, 2) keberminatan peserta untuk menanam lebih banyak, dan 3) hasil pelatihan dengan peluang berwirausaha.
c.       Aspek pelatihan yang memperoleh kriteria paling rendah dengan kategori tidak baik atau rendah adalah nilai jual dari hasil tanaman dalam pelatihan.
d.      Kendala utama dari pelatihan PKM Hortikultura ini adalah tidak adanya lahan atau pekarangan rumah yang sangat sempit untuk pengembangan usaha atau tanaman dalam skala lebih banyak.

5.2. Rekomendasi
Hasil pengkajian PAUDNI tentang “Analisis Penyelenggaraan Program PKM Hortikultura Budidaya Tanaman Sayuran Organik bagi Ibu-ibu Rumah Tangga di RW VI Kelurahan Pedalangan Banyumanik Semarang” ini direkomendasikan kepada:
a.       Pamong belajar, untuk mengembangkan model pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan masyarakat.
b.      SKB dan lembaga penyelenggara pendidikan nonformal lainnya, untuk menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan yang menarik dan mengun-tungkan atau mensejahterakan bagi peserta.
c.       Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, sebagai bahan pertimbangan penye-lenggaraan kegiatan pelatihan di wilayah kerjanya.
d.      P2 PAUDNI, sebagai bahan kajian untuk pengembangan model yang lain.
e.       Kementerian Kebudayaan dan Dikdasmen, sebagai bahan kajian untuk memberikan bantuan kegiatan pelatihan bagi lembaga pengembang dan penyelenggara program pelatihan.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Depdiknas. 2010. Petunjuk Pelaksanaan Bansos Pendidikan Kesetaraan Berbasis Kewirausahaan. Jakarta: Depdiknas

Ditjen Paudni Kemdikbud. 2014. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Program kewirausahaan masyarakat. Jakarta: Kemdikbud

Hasan, M. Iqbal. 2005. Pokok-pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara

Hasibuan, H.Malayu S.P. 2007. Organisasi dan Motivasi: Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: Bumi Aksara

Kasmir. 2007.  Kewirausahaan.  Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa

Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta

http://id.wikipedia.org/wiki/Hortikultura. Definisi Hortikultura. 4 Oktober 2014

http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis. Definisi Analisis. 4 Oktober 2014